, ,

Bangunan Bersejarah Pemerintah Kota Cimahi Ambisi Hidupkan Kembali Sejarah

oleh -624 Dilihat

Menghidupkan Kembali Saksi Bisu Kolonial: Pemugaran Rumah Jagal Cimahi yang Bersejarah

Diskusi Cimahi- Lorong waktu seolah terpateri di sudut-sudut Kota Cimahi. Di antara modernitas yang bertumbuh, jejak-jejak era kolonial Belanda masih tegak berdiri, bercerita tentang sebuah babak penting dalam sejarah Indonesia. Namun, banyak dari bangunan bersejarah ini yang kini dalam kondisi memprihatinkan, terancam terlupakan oleh zaman. Salah satu permata yang nyaris pudar itu adalah Rumah Potong Hewan (RPH) atau Abattoir peninggalan Belanda, yang kini menjadi fokus ambisi Pemerintah Kota Cimahi untuk dihidupkan kembali.

Bangunan Bersejarah Pemerintah Kota Cimahi Ambisi Hidupkan Kembali Sejarah
Bangunan Bersejarah Pemerintah Kota Cimahi Ambisi Hidupkan Kembali Sejarah

Baca Juga : Pemkot Cimahi Resmi Melepas 201 Atlet POPDA Jabar 2025

Sebuah Mahakarya Art Deco yang Terlupakan

Berada di Jalan Sukimun, Kelurahan Baros, Kecamatan Cimahi Tengah, bangunan Abattoir ini bukan sekadar struktur tua. Ia adalah sebuah manifestasi kecanggihan ilmu tata kota dan arsitektur Hindia Belanda pada masanya. Mengusung gaya Art Deco yang khas, bangunan ini dirancang dengan presisi dan estetika tinggi, jauh dari kesan bangunan industri yang semrawut.

Sayangnya, kemegahan masa lalu itu kini tertutup oleh wajah yang lusuh. Tembok-temboknya mengelupas, atapnya berlubang diterpa waktu, dan coretan-coretan vandalisme mengotori dindingnya yang dahulu pasti bersih. Nasibnya hanya menjadi gudang penyimpanan, seolah kisahnya telah berakhir. Padahal, melalui Keputusan Wali Kota Cimahi Nomor 430/2342-Disbudparpora/2024, bangunan ini resmi menyandang status Bangunan Cagar Budaya, sebuah pengakuan atas nilai historisnya yang tak ternilai.

Sebuah Komitmen untuk Melestarikan

Melihat kondisi yang kian merana, Pemerintah Kota Cimahi akhirnya mengambil tindakan. Tahun 2025 ini, Abattoir bersejarah tersebut dipastikan akan menjalani proses restorasi dan pemugaran menyeluruh.

“Rencananya tahun ini akan kita restorasi. Statusnya sebagai cagar budaya membuat kita memiliki kewajiban mutlak untuk memelihara dan melestarikannya,” tegas Lucky Sugih Mauludin, Kepala Bidang Kebudayaan dan Pariwisata pada Disbudparpora Kota Cimahi.

Pemugaran ini tidak akan dilakukan secara serampangan. Lucky menekankan bahwa prosesnya akan melibatkan ahli heritage dan tim teknis dari Dinas PUPR untuk memastikan keautentikan bangunan tetap terjaga. “Target pelaksanaannya pada September ini. Prinsipnya, struktur dan gaya arsitektur Art Deco-nya tidak akan diubah sama sekali. Kita akan memperbaiki bagian yang rusak, seperti tembok, atap, hingga mengecat ulang dengan warna yang sesuai periodenya,” jelasnya.

Abattoir: Jantung Logistik Garnisun Militer Belanda

Untuk memahami betapa vitalnya bangunan ini, kita harus mundur ke akhir abad ke-19. Saat itu, Cimahi ditetapkan sebagai kota garnisun atau basis militer tentara KNIL (Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger) oleh Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels.

“Abattoir didirikan tepat di tepi rel untuk efisiensi. Fungsinya sebagai pemasok utama logistik pangan untuk seluruh tentara yang bermarkas di Cimahi. Sapi-sapi impor dari Australia yang datang melalui Batavia (Jakarta), diangkut via kereta api dan langsung disembelih di sini untuk menjamin kesegaran pasokan daging,” papar Machmud.

Bangunan ini terus beroperasi melewati berbagai era peralihan kekuasaan: dari Belanda, diduduki Jepang pada periode 1942-1945, kemudian dikelola oleh Residen Priangan, hingga akhirnya diambil alih Pemerintah Kabupaten Bandung pada 1960. Sayang, seiring berdirinya Rumah Potong Hewan yang lebih modern, Abattoir legendaris ini pun pelan-pelan ditinggalkan dan akhirnya mangkrak.

Masa Depan Baru untuk Warisan Masa Lalu

Wali Kota Cimahi, Ngatiyana, menegaskan komitmennya untuk tidak membiarkan warisan sejarah ini punah. “Ini adalah bukti fisik dari perjalanan panjang kota kami. Merupakan kewajiban kita bersama untuk melestarikan, menjaga, dan merawatnya karena nilai sejarahnya sangat berharga. Bentuk dan arsitekturnya harus dipertahankan sebagai edukasi untuk generasi mendatang,” ujarnya.

Pemugaran Abattoir Cimahi bukan sekadar proyek perbaikan bangunan tua. Ini adalah sebuah upaya menjahit kembali ingatan kolektif sebuah kota, mengubah sebuah saksi bisu yang terluka menjadi ruang hidup yang bisa bercerita. Keberhasilannya akan menjadi cetak biru bagi pelestarian bangunan-bangunan bersejarah lainnya di Cimahi, membuka potensi baru sebagai destinasi wisata heritage yang menarik, sekaligus memberikan kebanggaan bagi seluruh warga Cimahi atas warisan sejarah mereka yang unik.

Membangun Masa Depan dengan Memulihkan Masa Lalu

Pemugaran Abattoir tidak hanya sekadar memperbaiki batu dan mortir. Selanjutnya, proyek ini justru membuka babak baru bagi partisipasi masyarakat. Sebagai contoh, Disbudparpora berencana menggelar festival atau pameran temporer di lokasi selama proses restorasi berlangsung. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya menjadi penonton pasif, tetapi dapat langsung menyaksikan dan belajar tentang kompleksitas pelestarian cagar budaya.

Tak hanya itu, pemerintah juga melihat potensi besar di ujung proses pemugaran ini. Setelah bangunan kembali kokoh dan utuh, mereka berencana mengubahnya menjadi pusat budaya dan destinasi wisata heritage yang hidup. Misalnya, ruang-ruang dalam Abattoir dapat berfungsi sebagai galeri seni yang memamerkan sejarah militer Cimahi, ruang workshop, atau kafe bernuansa vintage. Akibatnya, bangunan bersejarah ini tidak lagi menjadi monumen mati, tetapi justru dapat menghasilkan pendapatan untuk biaya perawatannya sendiri sekaligus menggerakkan ekonomi kreatif di sekitarnya.

Belajar dari Kesuksesan Kota Lain

Selain itu, Kota Cimahi tidak perlu mulai dari nol. Sebaliknya, mereka dapat mencontoh kesuksesan kota-kota lain yang telah lebih dulu membangkitkan cagar budayanya. Ambil contoh, Kota Semarang yang sukses menghidupkan kawasan Kota Lama menjadi magnet wisatawan domestik maupun mancanegara. Demikian pula, Surabaya dengan keahliannya mengubah bangunan-bangunan kolonial seperti House of Sampoerna menjadi ikon budaya yang mendunia. Oleh karena itu, langkah Cimahi ini merupakan terobosan tepat untuk memasuki peta wisata heritage Indonesia.

Sebuah Warisan untuk Generasi Mendatang

Pada akhirnya, pemugaran Abattoir Cimahi memiliki makna yang jauh lebih dalam. Lebih dari sekadar proyek fisik, ini adalah investasi berharga untuk identitas dan masa depan kota. Dengan melestarikan jejak sejarahnya, Cimahi memberikan pelajaran nyata tentang resilience dan perubahan kepada generasi muda. Alhasil, anak cucu kita nanti tidak hanya membaca sejarah dari buku teks, tetapi dapat menyentuh, merasakan, dan berjalan menyusuri lorong-lorongnya secara langsung.

Singkatnya, kebangkitan Abattoir Cimahi akan menjadi simbol kebanggaan. Proses ini membuktikan bahwa masa lalu dan masa depan dapat berjalan beriringan, menciptakan sebuah narasi kota yang kaya, dinamis, dan penuh karakter.

Dior

No More Posts Available.

No more pages to load.